Home Human Interest Jejak Kejayaan Kesultanan Siak di Pekanbaru

Jejak Kejayaan Kesultanan Siak di Pekanbaru

200
0

Kampung Bandar di tepian Sungai Siak Pekanbaru merupakan bagian penting dalam perkembangan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Kawasan ini ini pernah menjadi pusat pemerintahan, saat di perintah Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah berkuasa pada tahun 1761-1766. Sayangnya, Istana kesultanan yang menjadi pusat pemerintahan tidak tersisa sama sekali, dilokasi tersebut berdiri megah Masjid Raya Pekanbaru.

Namun demikian, beberapa bangunan peninggalan kesultanan masih berdiri dan terawat di Kampung Bandar Senapelan. Sebagai pusat perdagangan di pesisir timur Sumatera diawal abad 18, arsitektur bangunan Kesultanan Siak Sri Indrapura banyak dipengaruhi budaya Melayu, Eropa dan Timur Tengah.

Berikut bangunan peninggalan Kesultanan Siak di Kampung Bandar Pekanbaru :

RUMAH HINGGAP (INAP)

Bangunan seluas 526 m2 bergaya Turki ini berdiri pada tahun 1927 karya arsitektur asal Belanda. Rumah ini kediaman H.Zakaria yang merupakan Mufti Besar di Kesultanan Siak Sri Indrapura dan merupakan tempat bermalam Sultan Siak XII saat berkunjung di Pekanbaru.

RUMAH SINGGAH 

Berada sekitar 20 meter dari pinggiran sungai siak, struktur bangunan didominasi dari bahan kayu kecuali tangga pada sisi timur bangunan yang terbuat dari bagas bersepsi.

Arsitektur bangunan khas melayu ini dibangun pada tahun 1895 sedangkan bagian tangganya dibangunpada tahun 1928 yang kemungkinan menggantikan tangga asli yang terbuat dari kayu. Bangunan ditopang berupa tonggak terbuat dari beton yang berfungsi sebagai pondasi yang sebagian besar memiliki profil dan hiasan perbingkaian pada permukaannya.

Bagian bangunan utama terdiri dari dinding, pintu, jendela serta ventilasi. Komposisi ruang memiliki fungsi beragam yang dicirikan perbedaan bagian jendela khususnya terapis yang menjadi penutup rongga jendela. Sedangkan bagian dinding terbuat dari kayu berupa ruas papan.

RUMAH TENUN

Rumah tenun berasitektur melayu ini dibangun sekitar tahun 1887. Bangunan ini merupakan rumah panggung dengan atap lipat kajang berbentuk bumbung yang curam sehingga memudahkan air hujan jatuh ketanah. Umumnya rumah panggung lipat kajang juga dilengkapi dengam ornament ukiran berupa selembayung dengan motif tumbuhan, bunga dan hewan.

Lipat kajang sendiri bermakna "kelok" seperti jalan atau sungai yang berbentuk sudut tajam, hal ini menggambarkan rumah-rumah melayu berada di tepi sungai. Oleh karena itu, rumah panggung lipat kajang banyak ditemukan disepanjang sungai-sungai besar di Riau, seperti Siak, Rokan, Kampar dan Indragiri.

Previous articleAda “Rasa” di Setiap Keindahan Tenun Songket Siak
Next articleMonyet Hitam Sulawesi Utara Yang Mendunia