Sebuah pepatah kuno China mengatakan " Waktu Terbaik Untuk Menanam Pohon adalah 20 Tahun yang Lalu, Sedangkan Kesempatan Kedua yang Terbaik Adalah Saat ini ".Tidak ada alasan terlambat untuk mulai menanam pohon, meskipun manfaatnya tidak dirasakan lansung, namun akan berguna untuk generasi yang akan datang. Termasuk mangrove, jenis tumbuhan yang hidup disubstrat tergenang antara air laut dan air tawar. 

Menurutu data Bank Dunia tahun 2021, sekitar 23 % hutan mangrove dunia berada di Indonesia dengan 92 spesies mangrove sejati. Namun luasan mangrove tersebut terus mengalami penurunan akibat pengalihan lahan, seperti tambak udang di pesisir Kalimantan dan Sulawesi. Disamping itu, pengalihan hutan mangrove menjadi perkebunan sawit dan pemukiman di perkotaan juga masiv terjadi.

Kehidupan pesisir adalah yang paling terdampak akan rusaknya ekosistem mangrove yang merupakan pelindung alami menahan gelombang laut, mencegah terjadinya erosi, mencegah terjadinya instrusi air laut dan bencana tsunami. Hutan mangrove juga habitat penting bagi berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Upaya penyelamatan hutan mangrove telah banyak dilakukan banyak pihak, baik pemerintah, lembaga pendidikan, swasta dan komunitas masyarakat. Salah satunya adalah penanaman bakau (Rhizopora Spp) di Desa Pengudang Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau kerjasama Universitas Maritim Ali Haji (UMRAH) dengan Pengudang Bintan Mangrove.

Saat ini, Desa Pengudang telah menjadi tujuan wisata bahari di Kabupaten Bintan. Berbagai kegiatan rutin dilakukan, seperti wisata penanaman mangrove dan festival budaya. Namun, tumpahan minyak yang sering terjadi di peraira sekitar Pulau Bintan menjadi ancaman serius bagi kelestarian hutan mangrove di Desa Pengudang. 

Plant A Mangrove, Plant A Hope for Coastal Habitat.

The best time plant a tree planting was 20 years ago, and the second best time is now (A Chinese Proverb). There is no reason to late to plant a tree, although the its benefit is not direct but is very useful for the future generations.

The living of coastal area is very impacted by destruction of mangrove forest ecosystem. Mangrove forest is natural guard from storm surges, tsunami and reducing erosion. Beside that mangrove forest also habitat for many fish species and another marine biota.

The mangroves are a group trees that live in coastal intertidal zone. Base on World Bank Data in 2021, about 23 % of the world mangrove forest in Indonesia and it is the most diverse with 92 true mangrove species. Unfortunately, the mangrove area has lost significantly annually. The majority it was converted became aquaculture pond in Kalimantan and Sulawesi. Beside that it was also converted became palm oil plantation and coastal development for urban expansion.

The effort to save mangrove forest through mangrove reforestation activities have increased in some years ago by many organizations like government, university, private sector and also community. One of them is cooperation between Maritim Ali Haji University with Pengudang Bintan Mangrove. Right now, Pengudang village has grew became main marine tourism in Bintan Island that base on environment education such as mangrove planting and cultural festival. Anyway, oil spill in Bintan waters was became threatened for mangrove sustainability in Pegudang Village 

ISKINDO KEPRI-10
ISKINDO KEPRI-12