Home Nature Monyet Hitam Sulawesi Utara Yang Mendunia

Monyet Hitam Sulawesi Utara Yang Mendunia

100
0

Barangkali monyet hitam bernama Naruto, monyet yang paling terkenal sejagad raya ini. Gugatan tentang siapa yang berhak memegang hak cipta menjadi pemberitaan yang ramai di tahun 2015. Sebuah lembaga penyayang binatang, People for the Ethical Treatment of Animal (PETA) menuntut Naruto berhak atas hak cipta foto selfienya  dibanding sang phographer, David Salter.

Akhirnya pada September tahun 2017, Pengadilan Tinggi di Amerika Serika memutuskan bahwa hak cipta foto selfie Naruta menjadi milik sang photographer, tetapi  Slater harus mendonasikan 25 % dari setiap pendapatan dari foto tersebut untuk perlindungan habitat monyet hitam di Indonesia.

Slater mendapatkan foto selfie Naruto pada tahun 2011 di Cagar Alam Tatongko Bagtuangus di Kota Bitung Sulawesi Utara. Kawasan ini memang terkenal sebagai habitat berbagai satwa endemik Sulawesi, selain Monyet Hitam terdapat juga terdapat Tarsius spectrum dan Julang Sulawesi.

Keberadaan satwa-satwa edemik tersebut telah tercatat pada Ekspedisi Wallace yang diperkirakan tiba di Sulawesi Utara pada tahun 1859. Dalam catatan ekspedisi tersebut ditulis Wallace pernah berada di pasir hitam dan berbatu vulkanis akibat letusan Gunung Klabat. Tempat tersebut identik dengan Pantai Pal yang berada di Kawasan Cagar Alam Tatongko.

Penduduk lokal mengenal monyet hitam dengan nama Yaki memiliki ciri khas tubuh hitam pekat, badan besar dengan rambut berjambul diatas kepala serta bokong merah mudah. Rata-rata ukuran tubuh 0,5 m dengan berat sekitar 9 kg. Sebagai hewan diurnal, Yaki aktif mencari makanan pada siang hari. Setidaknya dalam satu Yaki menjelajah hampir 5 km untuk mencari buah-buahan, biji-bijian , umbi-umbian, serangga dan kadal.

Populasinya yang terus menurun akibat aktivitas manusia membuat International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukannya Yaki dalam kategori terancam kritis (critical endangered) atau resiko tinggi untuk punah.

gallery

Previous articleJejak Kejayaan Kesultanan Siak di Pekanbaru
Next articleMenjumpai Tarsius, Primata Terkecil di Indonesia